Benarkah Infused Water Bisa Di Klaim Mendatangkan Manfaat Terapi ?

Infused Water?

Benarkah infused water bisa di klaim mendatangkan manfaat terapi?

 

Berikut penjelasannya…

 

Sel tumbuhan adalah dinding sel yg terbuat dr selulosa sebagai materi utama dan polisakarida. Selulosa pd dinding sel tumbuhan memberi struktur yg rigid, tahan tekanan, oleh sebab itu sel tumbuhan tidak dapat lisis alias hancur.

 

Dinding sel tumbuhan memiliki lubang kecil-kecil yang sering disebut Plasmodesmata. Fungsi plasmodesmata adalah sebagai komunikasi antar sel (cell signaling) dan transpor material dr dalam dan keluar sel. Struktur yg sama jg terdapat pada sel hewan hanya beda nama, gap junction.

 

Di dalam sel tumbuhan ada cairan sel (protoplasma) dan kompartemen2 kecil (organel). Beberapa organel terpisah dr protoplasma dilapisi membran, misalnya ribosom dan kloroplas. Ribosom untuk tempat sintesis protein dan kloroplas utk fotosintesis.

 

Vakuola adalah struktur yg berfungsi sebagai “gudang” sel. Vakuola pd sel tumbuhan khas, karena ukurannya yg  besar2. Isi “gudang” ini cem macem. Glukosa sebagai cadangan makanan, pigmen atau minyak atsiri. Sel hewan jg ada vakuolanya tp kecil2 dan tersebar.

 

*

 

Jika sel tumbuhan itu rigid alias rapat maka tidak bisa meledak meski bisa membesar, misalnya kalau kemasukan air. Kondisi sel yg membesar disebut sebagai kondisi turgid gaes. Sel kemudian akan menekan sekitarnya tapi sel gak pecah.

 

Kondisi turgid misalnya terjadi saat kita masukin kentang dalam air atau aquadest. Air akan masuk ke dalam sel2 kentang, menyebabkan sel2 tersebut membesar. Kentangnya jadi bengkak tetapi tidak melunak. Masuk keluarnya air dan molekul ke dalam sel adalah melalui osmosis atau difusi.

 

*

 

Proses osmosis dan difusi akan memungkinkan beberapa substansi di dalam sel akan terlarut ke luar sel.  Substansi (atau senyawa fitokimia) tsb akan keluar melalui plasmodesmata dan terlarut di cairan yg digunakan sebagai pelarut dlm proses osmosis dan atau difusi.

 

Terlarutnya senyawa fitokimia di dalam pelarut yg digunakan dlm proses osmosis dan atau difusi akan menurunkan konsentrasi senyawa tersebut di dalam pelarut. Bisa dibayangkan begini, kalau kita masukkan tinta ke dalam air, warna tintanya akan memudar atau bahkan hilang kan? Dengan begitu kalaupun ada senyawa fitokimia yg tertinggal di dalam pelarut konsentrasinya sangat mungkin menjadi kecil atau sangat kecil. Hilang? Ya mungkin saja.

 

Sel sudah sangat kecil, maka organel2 didalamnya pastilah sangat sangat kecil, dan senyawa fitokimia ada di dalam organel (biasanya di dalam vakuola) konsentrasinya sangat sedikit. Jika kemudian senyawa2 itu keluar dari sel dan terlarut dl pelarut yg jumlahnya jauh lebih banyak dr sitoplasma (cairan dalam sel), maka tidak heran jika konsentrasinya turun menjadi jauh lebih sedikit.

 

Oleh sebab itu, pada berbagai metode ekstraksi (pemisahan senyawa bioaktif) tumbuhan, langkah awalnya adalah penghancuran dinding sel yg bertujuan agar senyawa2 fitokimia di dalam sel dapat keluar maksimal. Beberapa metode yg umum digunakan utk menghancurkan dinding sel misalnya liofilisasi (freeze-drying), microwave drying, oven drying atau jemur (air drying). Paling mudah dan umum digunakan sejak jaman dulu kala misalnya penumbukan atau perebusan.

 

Pernah lihat orang merebus daun atau akar atau daun dlm jumlah banyak, air yg digunakan utk merebus banyak, tapi air rebusan dibiarkan susut hingga tinggal segelas misalnya? Nah, itu contoh ekstraksi. Perebusan diharapkan merusak struktur sel sehingga senyawa fitokimia keluar maksimal. Kenapa dibiarkan hingga air rebusan tinggal sedikit? Karena diharapkan senyawa fitokimia yg tertinggal dlm pelarut, konsentrasinya tinggi.

 

Yang perlu jg diperhatikan dlm ekstraksi adalah pelarut yg digunakan. Air memang pelarut universal dan umum digunakan. Tapi, tidak semua senyawa fitokimia dapat larut dalam air. Diketahui beberapa senyawa fitokimia yg dpt larut air misalnya antosianin (pigmen bunga), starch (pati atau gula), saponin (yang dapat menimbulkan busa), tannin (pigmen coklat, misalnya pada teh) dsb. Namun tidak semua senyawa fitokimia dapat larut air ya.

 

*

 

Bagaimana degan infused water?

 

Infused water dibuat dengan cara merendam irisan, kupasan atau potongan tanaman tertentu dlm air selama beberapa jam. Air rendaman tsb kemudian akan dikonsumsi dgn “klaim menyehatkan”. Tidak diketahui ada metode ekstraksi tertentu yg bertujuan utk pemecahan dinding sel.

 

Maka pertanyaannya adalah,

 

Seberapa banyak  substansi fitokimia terlarut dlm infused water?  Apakah konsentrasinya optimal? Atau malah justru sangat sedikit atau hilang? Hal ini karena bahan2 yg dimasukkan masih dlm keadaan utuh.

 

Tapi kan airnya terasa manis? Semacam ada seger2nya gitu, meminjam tagline sebuah iklan. Iya, ada rasanya, tapi itu karena starch (gula/pati) dari tanaman memang merupakan senyawa yg larut air. Bagaimana jika yg larut  dr sebuah infused water hanya pati? Minum air gula saja kan kak ya? 😁

 

Rasa yg  ada manis2nya itu yg sesungguhnya membuat pengalaman minum infused water jadi menyenangkan. Sekaligus bantuan bagi mereka yg tidak suka minum air putih.

 

Jadi begini, intinya yaa, ngombe minum air putih biasa 2 lt sehari sama saja dengan  infused water 2 lt per hari. Perbedaan khasiatnya tidak signifikan. Hal ini bisa dipahami karena konsentrasi senyawa fitokimia dlm infused water sedikit pake banget kok ya..

 

Klaim kesehatan lain bagaimana?

Haih, yg namanya klaim ya harus ada bukti valid yg terbukti lewat serangkaian uji dgn metode valid. Tanpa itu klaim hanya sekedar klaim. Diragukan keabsahannya karena tanpa bukti.

 

“Jadi kesimpulannya, konsumsi infused water tetap baik, namun tidak bisa memiliki klaim untuk pengobatan penyakit terntentu ya..”

 

#SalamBahagiaSehat

#AlkesDayaJuang

Leave a Comment